Indonesia dan Italia Bahas Akuisisi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi dan Pesawat AV-8B Harrier II

Italia kemungkinan menawarkan paket pelatihan awak dan suku cadang untuk memastikan operasional kapal induk Giuseppe Garibaldi dan AV-8B Harrier II di

Perundingan Jakarta & Roma Soal Pembelian Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Bersama Pesawat AV 8B Harrier II Disebut Konsep Memberi dan Menerima. 

Pemerintah Indonesia dikabarkan tengah dalam perundingan dengan Italia terkait kemungkinan pembelian kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi (C551) yang telah dipensiunkan oleh Angkatan Laut Italia pada Oktober 2024. Tidak hanya kapal induk, perundingan juga mencakup akuisisi sekitar 30 unit pesawat tempur AV-8B Harrier II yang memiliki kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal (STOVL).


Perundingan antara Jakarta dan Roma disebut mencerminkan konsep "memberi dan menerima", di mana Italia menawarkan kapal induk beserta pesawat tempurnya, sementara Indonesia mempertimbangkan akuisisi ini untuk memperkuat kekuatan TNI Angkatan Laut. Langkah ini sejalan dengan rencana Minimum Essential Force (MEF), yang mencakup akuisisi empat kapal induk helikopter, empat fregat, serta beberapa kapal patroli rudal.

Jika kesepakatan ini terwujud, Indonesia akan menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk ringan dengan kemampuan membawa jet tempur STOVL, menandai peningkatan signifikan dalam kapabilitas pertahanan maritimnya.
Baca juga:

Spesifikasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

Kapal induk Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan yang telah lama menjadi andalan Angkatan Laut Italia. Kapal ini memiliki:

• Panjang: 180,2 meter
• Lebar: 33,4 meter
• Bobot penuh: 13.850 ton
• Kapasitas: Mampu membawa hingga 16 pesawat tempur dan berbagai jenis helikopter
• Sistem Pertahanan: Dilengkapi dengan rudal Albatros (Aspide) dan meriam Oto Melara 40mm

Selain itu, kapal ini telah terbukti dalam berbagai operasi, termasuk misi kemanusiaan dan penegakan keamanan maritim di berbagai belahan dunia.

Potensi Akuisisi AV-8B Harrier II

Selain kapal induk, Italia juga menawarkan 30 unit pesawat tempur AV-8B Harrier II. Pesawat ini memiliki keunggulan utama dalam kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (STOVL), yang sangat cocok dioperasikan dari kapal induk ringan seperti Giuseppe Garibaldi.

Spesifikasi utama AV-8B Harrier II:

• Kecepatan maksimum: 1.065 km/jam
• Jangkauan tempur: 1.200 km
• Persenjataan: Dapat membawa berbagai jenis rudal udara-ke-udara, udara-ke-darat, serta bom pintar dan konvensional
• Kemampuan STOVL: Memungkinkan operasi di kapal dengan landasan terbatas
Baca Juga:

Alasan Indonesia Mempertimbangkan Akuisisi Ini

Sejumlah faktor mendorong Indonesia untuk mempertimbangkan akuisisi kapal induk dan pesawat tempur ini, di antaranya:

Peningkatan Kapabilitas Militer – Indonesia saat ini tengah memperkuat kemampuan maritimnya untuk menjaga kedaulatan wilayah, terutama di perairan strategis seperti Natuna dan Laut China Selatan.

Efektivitas Biaya – Kapal ini telah pensiun dari Angkatan Laut Italia, sehingga kemungkinan besar ditawarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan membeli kapal baru.

Kemampuan Operasi Multi-Peran – Selain untuk operasi militer, kapal ini juga bisa digunakan untuk bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana.

Langkah Strategis dalam Persaingan Regional – Dengan memiliki kapal induk, Indonesia akan menjadi kekuatan maritim yang lebih disegani di kawasan Asia Tenggara.
Baca juga:

Italia Beralih ke Kapal Induk yang Lebih Canggih

Italia sendiri telah menggantikan Giuseppe Garibaldi dengan kapal serbu amfibi baru, ITS Trieste, yang memiliki kapasitas lebih besar dan mampu mengoperasikan jet tempur F-35B. Dengan demikian, keberadaan Giuseppe Garibaldi tidak lagi menjadi prioritas bagi Angkatan Laut Italia, sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakuisisinya.

Perundingan antara Indonesia dan Italia mengenai akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi serta pesawat tempur AV-8B Harrier II menjadi langkah yang menarik dalam penguatan pertahanan maritim Indonesia. Jika kesepakatan ini terwujud, TNI AL akan memiliki kemampuan proyeksi kekuatan yang lebih besar, terutama dalam menghadapi tantangan geopolitik di kawasan.

Namun, kesepakatan ini masih dalam tahap pembicaraan, dan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, termasuk biaya operasional, pelatihan awak, serta integrasi dengan sistem pertahanan Indonesia yang sudah ada. Apakah Indonesia akan benar-benar memiliki kapal induk dalam waktu dekat? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.


Sumber: Defense Studies, Defense Security Asia

Pilihan Editor