Angka Tarif Trump Bikin Heboh, Diduga Hasil Perhitungan ChatGPT
Trump tuai kritik soal tarif impor baru, diduga gunakan rumus sederhana mirip hasil AI seperti ChatGPT dalam penetapannya.
![]() |
Simulasi AI seperti ChatGPT dituding jadi acuan rumus tarif oleh tim Trump. (Foto: chainsight) |
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menuai kontroversi setelah mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang dinilai memberatkan banyak negara.
Kebijakan ini menetapkan tarif dasar 10% untuk semua negara, ditambah tarif resiprokal yang besarannya bervariasi, seperti Indonesia yang dikenakan hingga 32%. Tapi muncul pertanyaan besar: dari mana sebenarnya angka-angka ini berasal?
Banyak kalangan mempertanyakan dasar perhitungannya. Bahkan, beredar dugaan bahwa angka-angka tersebut berasal dari perhitungan sederhana yang direkomendasikan oleh kecerdasan buatan seperti ChatGPT.
Situs teknologi The Verge melaporkan bahwa pendekatan ini memang sangat simpel—dan itulah yang membuatnya jadi perdebatan.
Ekonom James Surowiecki mencoba menelusuri metode yang mungkin digunakan. Ia menemukan bahwa tarif resiprokal yang diumumkan pemerintah AS bisa direplikasi dengan membagi angka defisit perdagangan sebuah negara dengan AS, lalu membaginya dengan total ekspor negara itu ke AS.
“Cukup bagi defisit dengan ekspor, dan Anda akan dapat angka tarif resiprokal versi cepat,” ujarnya, dikutip Jumat (4/4/2025). Ia juga menyebut metode ini sebagai sesuatu yang "sangat ngawur".
Masih dari laporan The Verge, pendekatan tersebut dipilih tim Trump karena dianggap efisien, terutama di tengah tekanan waktu untuk menetapkan kebijakan. Sumber lain seperti Politico juga menyampaikan sinyal serupa soal kecepatan dan kesederhanaan metode yang digunakan.
Di media sosial, terutama X (dulu Twitter), banyak pengguna menyadari bahwa jika mereka meminta ChatGPT, Gemini, Claude, atau Grok menghitung solusi tarif berbasis defisit perdagangan, mereka akan mendapat formula yang nyaris sama: defisit dibagi ekspor.
Meski demikian, Gedung Putih membantah klaim bahwa mereka mengandalkan perhitungan AI. Tim Trump menyatakan akan mempublikasikan formula resmi yang digunakan dalam kebijakan tersebut, meski belum ada kepastian kapan akan dirilis.
Isu ini menunjukkan tantangan baru di era digital: ketika kebijakan besar negara bisa jadi dipengaruhi, atau setidaknya menyerupai, hasil dari perhitungan mesin cerdas.
Gabung dalam percakapan