Gejolak Perang Dagang Tekan Rupiah di Offshore ke Level Rp17.006/USD
Perang dagang memanas, rupiah tembus Rp17.012/US$, pasar global panik, saham anjlok, investor buru aset aman.
![]() |
Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. (Foto: MI/Adam Dwi.) |
Perang dagang yang makin panas menyusul pengumuman tarif balasan Tiongkok pada Amerika Serikat (AS) sebesar 34%, makin menenggelamkan pasar keuangan global dalam kepanikan. Sinyal risk-off kembali menguat seiring dengan gelombang arus keluar dana dari aset-aset berisiko, termasuk dari pasar negara berkembang.
Nilai tukar rupiah ikut terseret setelah tindakan balasan dari Tiongkok dianggap memperdalam konflik perdagangan global. Menurut data real-time Bloomberg pada pukul 20:48 WIB, kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) untuk rupiah anjlok hingga menembus Rp17.006 per dolar AS.
Tak lama berselang, pada pukul 21:07 WIB, kontrak NDF rupiah kembali tertekan dan menyentuh Rp17.012 per dolar, mencerminkan depresiasi sebesar 1,63% dari posisi sebelumnya. Arah pergerakan NDF ini kerap menjadi indikator awal bagi pergerakan rupiah di pasar spot.
Di sisi lain, perdagangan spot untuk rupiah masih belum aktif karena pasar keuangan dalam negeri masih tutup selama libur panjang Lebaran hingga 7 April 2025. Kondisi ini menambah ketidakpastian menjelang pembukaan kembali pasar keuangan domestik.
Sementara itu, penguatan indeks dolar AS semakin menekan mata uang lainnya. Dolar malam ini berada di level 102,16, menambah tekanan terhadap rupiah di pasar luar negeri.
NonDeliverable Forward
Kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) adalah bentuk derivatif mata uang yang memungkinkan dua pihak untuk bertukar selisih nilai tukar antara NDF dan kurs spot pada saat jatuh tempo. Tak seperti kontrak berjangka biasa, NDF tidak melibatkan pertukaran fisik mata uang.
Menurut Investopedia, NDF sering digunakan oleh perusahaan multinasional dan lembaga keuangan sebagai alat lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi mata uang. Namun, banyak juga pelaku pasar yang menggunakan instrumen ini untuk tujuan spekulatif, khususnya di pasar negara berkembang yang lebih volatil.
![]() |
Rupiah NDF di pasar offshore menjebol level Rp17.006/US$ pada Jumat malam 4 April 2025 (Riset Bloomberg Technoz) |
Saat ini, pasar tengah diselimuti ketakutan seiring memanasnya retaliasi dagang dan rilis data ketenagakerjaan AS yang tak sepenuhnya menenangkan investor.
Data NonFarm Payroll
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis malam ini menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sebesar 228.000 pada bulan Maret, jauh di atas proyeksi 140.000 pekerjaan dan melesat dari angka Februari yang sebesar 151.000.
Namun, angka pengangguran justru naik dari 4,1% menjadi 4,2%, mengindikasikan sinyal campuran dari pasar tenaga kerja. Investor kini menantikan pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell, guna mendapatkan petunjuk soal arah kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.
“Data ketenagakerjaan yang kuat saja tak cukup untuk meredakan kecemasan pasar akan ancaman resesi,” kata Scott Ladner, Kepala Investasi di Horizons Investments kepada Bloomberg News. “Data ini bersifat retrospektif dan tidak mencerminkan penuh dampak dari perang dagang yang sedang berlangsung.”
Bursa saham berjatuhan
Pasar saham di Eropa mencatatkan pelemahan tajam. Bursa Italia anjlok lebih dari 7%, sementara indeks saham utama lainnya di Eropa juga melemah lebih dari 3%.
Di Amerika Serikat, tekanan jual semakin besar saat pembukaan perdagangan. Indeks S&P 500 langsung turun 2,5% dan Nasdaq anjlok 2,7%. Saham-saham teknologi papan atas seperti Nvidia, Tesla, dan Apple juga terpukul, bersama dengan saham perusahaan Tiongkok seperti Alibaba dan Baidu yang tercatat di bursa New York.
Kepanikan di pasar memicu pelarian dana ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury bertenor 10 tahun turun 8,7 basis poin menjadi 3,944%, sementara tenor 2 tahun turun 10,6 basis poin menjadi 3,576%.
Indeks volatilitas pasar, Cboe Volatility Index (VIX), mendekati angka 40, level yang mencerminkan kepanikan dan ketidakpastian tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Dolar AS juga menekan mata uang global. Di pasar spot, mayoritas mata uang Eropa, Amerika Latin, dan negara G-10 melemah. Hanya mata uang Asia yang sempat menguat hingga penutupan perdagangan sore tadi, sebelum Tiongkok mengumumkan tarif balasannya.
Balasan Tiongkok
Pemerintah Tiongkok akhirnya merespons kebijakan tarif dari Presiden Trump dengan mengenakan tarif impor sebesar 34% terhadap seluruh produk dari Amerika Serikat, memperdalam konflik dagang yang telah berlangsung lama. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 10 April, seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Xinhua.
Tiongkok juga mengumumkan rencana penyelidikan atas impor tabung X-ray medis dari AS dan India, serta menghentikan pembelian produk unggas dari dua perusahaan asal AS.
Namun, Presiden Trump langsung merespons melalui media sosialnya dengan menyatakan bahwa kebijakan tarif AS tetap akan dijalankan. “Tiongkok ketakutan. Mereka bermain dengan cara yang salah,” tulis Trump.
Meskipun tidak memberikan rincian soal langkah selanjutnya, Trump mengisyaratkan potensi aksi balasan tambahan. Ia juga menegaskan bahwa kebijakannya bertujuan menciptakan peluang besar bagi investor untuk meraih keuntungan lebih besar.
Mengenai laporan ketenagakerjaan terbaru, Trump menganggapnya sebagai bukti keberhasilan kebijakan ekonominya, karena hasilnya jauh melampaui ekspektasi.
Gabung dalam percakapan