Resesi Mengintai, JP Morgan Pangkas Proyeksi Ekonomi AS
JP Morgan prediksi ekonomi AS kontraksi -0,3% di 2025 akibat tarif Trump, peringatkan risiko resesi dan lonjakan pengangguran.
![]() |
Presiden AS Donald Trump saat pengumuman tarif di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, AS,Rabu (2/4/2025). (Kent Nishimura/Bloomberg) |
JP Morgan Chase & Co. memperingatkan bahwa ekonomi Amerika Serikat berisiko mengalami resesi tahun ini, seiring dampak dari kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump terhadap mitra dagang utama AS.
Dalam sebuah catatan kepada klien pada Jumat (4/4/2025), Kepala Ekonom JP Morgan, Michael Feroli, menyatakan bahwa pihaknya kini memperkirakan PDB riil AS mengalami kontraksi sebesar -0,3% untuk tahun 2025. Angka ini merupakan revisi tajam dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 1,3%.
Feroli menambahkan bahwa tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berdampak pada pasar tenaga kerja, dengan tingkat pengangguran yang diproyeksikan naik menjadi 5,3% dalam beberapa waktu ke depan.
Kebijakan tarif yang diberlakukan secara luas menyebabkan gejolak signifikan di pasar keuangan. Indeks S&P 500 jatuh ke level terendah, dan kapitalisasi pasar Wall Street dilaporkan menyusut sekitar US$5,4 triliun hanya dalam dua sesi perdagangan.
JP Morgan bukan satu-satunya lembaga yang memangkas proyeksi ekonomi AS. Barclays juga memperkirakan terjadinya kontraksi pada 2025. Citi menurunkan estimasi pertumbuhannya menjadi 0,1%, sementara UBS memangkas proyeksi menjadi 0,4%.
Kepala Ekonom UBS untuk AS, Jonathan Pingle, mencatat bahwa impor AS kemungkinan turun lebih dari 20% dalam beberapa kuartal ke depan. Penurunan tajam ini dapat membawa tingkat impor kembali ke level era sebelum 1986.
Menghadapi prospek pelemahan ekonomi, Feroli memperkirakan Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga acuan pada bulan Juni. Pemangkasan diperkirakan akan berlanjut hingga Januari 2026, dengan target suku bunga turun ke kisaran 2,75%–3%, dari posisi saat ini di 4,25%–4,5%.
Ini terjadi meskipun inflasi diperkirakan naik menjadi 4,4% pada akhir tahun, naik dari 2,8% saat ini. Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan suku bunga. “Rasanya seperti kita tidak perlu terburu-buru,” ujarnya.
Gabung dalam percakapan