SpaceX Cetak Sejarah dengan Misi Fram2, Penerbangan Kru Mengorbit Kutub Bumi
![]() |
Sebuah gambar yang ditangkap oleh misi Fram2. (SpaceX) |
Pada 1 April, SpaceX mencatat sejarah dengan misi privat Fram2. Untuk pertama kalinya, sebuah kru berhasil mengorbit kutub Bumi menggunakan kapsul Crew Dragon. Misi ini membawa empat awak: Chun Wang, Jannicke Mikkelsen, Rabea Rogge, dan Eric Phillips, yang terbang melintasi Kutub Utara dan Selatan.
Sebagai bagian dari perjalanan bersejarah ini, SpaceX telah membagikan berbagai gambar spektakuler dari penerbangan mereka.
Mengapa Orbit Kutub Jarang Ditempuh?
Misi Fram2 diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 dari Kennedy Space Center, Florida, pada 31 Maret pukul 21:46 EDT. Mereka memasuki orbit kutub dan menghabiskan beberapa hari untuk melakukan riset ilmiah. Nama "Fram2" diambil dari kapal eksplorasi kutub asal Norwegia pada awal abad ke-20.
Secara historis, orbit kutub jarang digunakan dalam penerbangan luar angkasa berawak karena dua alasan utama. Pertama, orbit ini membutuhkan lebih banyak bahan bakar dibandingkan orbit ekuatorial. Hal ini disebabkan oleh kurangnya manfaat dari rotasi Bumi yang biasanya membantu meningkatkan kecepatan peluncuran.
![]() |
Peluncuran kru Fram2 oleh Falcon 9 milik SpaceX dari Florida. (spaceX) |
Menurut Jeffrey Hughes, seorang profesor fisika antariksa di Universitas Boston, lebih banyak energi diperlukan untuk mencapai orbit kutub dibandingkan orbit ekuator. Ini karena Bumi berputar dengan kecepatan sekitar 1.600 km/jam di ekuator, memberikan dorongan alami bagi roket yang meluncur ke arah timur. Tanpa dorongan ini, roket harus mengandalkan lebih banyak bahan bakar untuk mencapai orbit.
Meskipun kebanyakan misi luar angkasa memilih orbit ekuatorial, beberapa satelit, terutama yang bertugas memantau cuaca atau perubahan iklim, sering menggunakan orbit kutub untuk memperoleh cakupan global yang lebih baik.
Orbit Kutub dan Radiasi Antariksa
Alasan lain mengapa orbit kutub jarang digunakan untuk penerbangan berawak adalah peningkatan paparan radiasi. Wilayah ini berada dalam jalur sabuk radiasi Van Allen, tempat partikel bermuatan tinggi terperangkap oleh medan magnet Bumi. Paparan radiasi yang tinggi dapat membahayakan kesehatan astronot.
![]() |
Pemandangan dari kapsul Crew Dragon yang membawa kru Fram2. |
Namun, dengan semakin meningkatnya ambisi eksplorasi luar angkasa menuju Mars dan wilayah lebih jauh, semakin banyak misi yang dirancang untuk mempelajari dampak paparan radiasi pada manusia. Sebagai contoh, misi Polaris Dawn sebelumnya telah mencapai ketinggian lebih dari 1.400 km di atas Bumi untuk menguji batas ketahanan manusia dalam lingkungan beradiasi tinggi.
Pemandangan Spektakuler Kutub Bumi dari Luar Angkasa
Dalam misi ini, kapsul Crew Dragon "Resilience" digunakan sebagai wahana utama. Berbeda dari kapsul Dragon yang biasa mengunjungi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), "Resilience" dilengkapi dengan jendela kubah besar yang menawarkan pemandangan luar angkasa yang luar biasa.
Chun Wang, pengusaha yang mendanai misi ini, membagikan berbagai foto dan video menakjubkan dari orbit. Dalam unggahannya, ia juga membagikan pengalaman kru selama di luar angkasa. Meskipun awalnya mengalami mabuk luar angkasa pada hari pertama, mereka segera beradaptasi dan menikmati pengalaman unik mengamati Bumi dari orbit kutub.
Misi Fram2 membuka babak baru dalam eksplorasi antariksa manusia dan membuktikan bahwa perjalanan melintasi kutub Bumi bukan lagi sekadar impian.
Gabung dalam percakapan